Wednesday, July 19, 2006

Lebih dan lebih...

Kemarin saya me-review (sebenarnya sih cuma membaca ..) proposal pengadaan suatu system aplikasi dari suatu vendor. Yang menarik dan menjadi perhatian saya adalah mengenai konfigurasi hardware dan software yang dibutuhkan. Ternyata mereka menawarkan sesuatu dan membundlenya seolah-olah dibutuhkan (padahal tidak), dengan memberikan spesifikasi yang terlalu tinggi, dan berlebihan. Misalnya dalam hal software untuk application server dan database server, mereka menggunakan versi / lisensi yang terlampau tinggi dari yang dibutuhkan. Akibatnya tentunya harganya menjadi lebih mahal.

Beberapa minggu yang lalu, ketika berobat, istri saya mendapat obat-obatan dari dokter. Saya coba cari di internet tentang kegunaan obat-obat tersebut (ask google first), dan ternyata obat-obatnya hampir sama isinya, satu sama lain. Artinya seharusnya salah satu obat dapat dihilangkan. Ini tentu berlebihan, redundant (benar ngga sih?), seperti halnya orang yang malas ber-EYD mengatakan "sangat .... sekali".

Masih tentang obat dan pelayanan dokter, saya jadi teringat keluhan dua orang teman saya yang mengatakan bahwa dia harus merogoh koceknya sampai hampir 500 rb rupiah ketika berobat ke dokter, padahal dia hanya terkena influenza biasa. Hal ini karena 'dokter memilih' (bener ngga sih frasa "Indonesia memilih"...) obat yang p4t3n ab!s (hehe abg version), sehingga harganya pun melangit. Belum lagi ditambah vitamin ini-itu, plus biaya jasa dokter, dan administrasi rumah sakit.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat dengar talkshow di delta fm, dengan seorang narsum (nara sumber) seorang dokter. Dia mengakui bahwa tidak ada standar yang baku tentang perobatan (bener ngga nih?) dan tata laksana rumah sakit di Indonesia. Salah satu akibatnya adalah tidak ada standar harga obat yang pas. Misalnya untuk obat sejenis antibiotik, atau paracetamol, harganya bervariasi dan berbeda antar satu merk dengan merk yang lain. Di seluruh dunia ini katanya hanya Australia, dengan kontrol dari pemerintah, yang sudah memiliki standar harga obat (sorry ngga sempat nyari skrinsut atau url nya). Sehingga untuk obat dengan kandungan yang sama, akan memiliki harga yang sama untuk merk yang berbeda, meskipun dijual di wilayah (geografis) yang berbeda pula.

Tapi, ya beginilah kondisi negeri ini. Semuanya memang butuh kerja keras karena masih banyak yang perlu dibenahi. Bener juga mungkin yang ditulis oleh Fahmi bahwa negeri ini penuh dengan eksploitasi, terutama buat orang-orang yang gampang diperdaya karena ketidaktahuannya.
Saya jadi teringat tentang iklan layanan masyarakat yang mengajak kita semua di manapun, kapanpun untuk selalu dan tidak berhenti belajar. "Saya Fuad Hasan, mengajak..", demikian suara Bapak mantan menteri pendidikan kita dalam iklan tersebut.

Monday, December 05, 2005

Pindahan

Hampir satu minggu ini saya pindahan dari blogspot ke sini. Sebenarnya proses pindahnya cuma sebentar.. kalo ditotal mungkin cuma beberapa jam. Hanya saja waktu dalam seminggu itu kepotong adanya UAS nya Pak Edison Hulu dan Pak Hamdy… tapi ya gitu deh akhirnya semuanya berlalu…Buat referensi temen2, technically, ini yang saya lakukan:


Pilih2 nama domain…, hmm ternyata udah ada yang register pake namaku. Namora.net yang beberapa bulan lalu sempat saya lihat masih available, ternyata doi udah diambil orang.
Subscribe ke webhosting provider, butuh proses satu hari. Register, dikirimi invoice, dan bayar. Besuk paginya dapat email notifikasi pengaktifan, tunggu beberapa jam, … dan klik! saya udah punya rumah baru.
Bikin database, downlaod binary Wordpress, upload dan extract, dan lima menit kemudian, udah siap deh my blog.
Backup materi blog dari blogspot (copy-pase tentunya), dan posting ke wordpress.
Nah sekarang tinggal nyari template atau theme yang sesuai… ada yg bisa kasih suggestion?


Begitulah…

silakan klik di http://namora.org/blog

Thursday, September 29, 2005

Budaya ( yang ngalor-ngidul)

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman email dari salah satu mailing list yang saya ikuit. Dalam email tersebut ada attachmentnya. Karena sibuk dengan pekerjaan dan saya pikir tidak urgent sekali, email tersebut baru saya buka tadi pagi.
Ini mungki memang soal selera, tapi sebenarnya saya sering berpikir dengan attachment yang ada diemail tersebut. Email yang barusan saya buka tersebut berattachment sebuah file MS Power Point (PPT). Tanpa bermaksud meremehkan si pembuat file tersebut, sepertinya menurut saya, file tersebut tidaklah worthed jika dipresentasikan dengan PPT, karena tidak ada yang 'special' dari file tersebut, isinya juga text biasa, dan kenapa 'harus' menggunakan PPT, kalau hanya menggunakan fitur background. Sekali lagi memang ini soal selera. Atau saya yang terlalu 'usil' dan sok idealis? Entahlah. Saya hanya berpikir dan mencoba membandingkan jika tidak menggunakan PPT. Yang pertama, jelas dengan format PPT, ukuran file yang dikirimkan menjadi besar. Berapa space yang dibuang percuma seandainya bisa digantikan dengan yang lain, walaupun mungkin ada yang bilang bahwa harga space / media penyimpanan cenderung untuk turun. Tapi tetap saja namanya pemborosan. Belum hal ini akan menambah kinerja jalur komunikasi komputer (network transmission) dalam hal mengirimkan file tersebut melalui email. Iya kalau penerimanya mempunyai software PPT. Hmm kok saya jadi nulis begini ya?
Idealnya dan kadang saya punya ide, seandainya saja ada lembaga, atau organisasi yang mengurusi hal-hal yang demikian. Terserahlah apa namanya: Lembaga Ketertiban dan ketepatan nasional, Komisi Penegak Budaya Tepat Guna, Proper and Worthed Commision Watch, dll.. hehee (*politician mode). Mungkin Indonesia akan menjadi lebih baik. Saya hanya kadang bisa bingung sendiri kok bisa ya banyak orang sepakat untuk melakukan sesuatu dan berbudaya dengan tidak memperhitungkan apakah usaha yang dia lakukan itu akan memberikan imbal hasil yang sepadan dengan usaha tersebut (worthed)?
Beberapa hari yang lalu dijalan yang biasa saya lalui (dan sekarang juga masih) ada posko atau apalah namanya, ditengah jalan meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Saya lihat sepertinya tidak banyak yang melempar selembar dua lembar rupiah ke jaring penangkap ikan yang disodorkan ke semua kendaraan yang lewat. Yang jadi pertanyaan saya, apakah worthed melakukan hal yang demikian? Dan kenapa 'budaya' ini belum sirna juga. Terlepas dari niat mereka untuk 'berbuat baik' , sepertinya menurut saya cara yang demikian tidaklah tepat guna bahkan cenderung menimbulkan sentimen negatif bagi orang yang tidak sependapat dengan mereka. Lihatlah di tengah jalan dipasang drum, sebagai pemisah lajur. Trus disitu duduk (atau kadang berdiri) minimal 2 pasang orang yang memperlambat laju lalu lintas untuk meminta sumbangan. Sementara diseberang jalan (kadang jauh tempatnya) terdengar orasi (berhalo2 :) yang intinya "mohon sumbangan untuk pembangunan masjid ini" diiringi back-sound lagu Shalawat. Berapa konsumsi listrik yang mereka gunakan untuk itu sepanjang hari? Menurut saya, niat dan motifasi mereka mungkin bagus. Tapi apakah cara mereka sudah bagus dan tepat? Saya pikir mereka butuh kemasan baru untuk meneruskan budaya itu. (*sarcasm mode) Sudah ngga jamannya lagi kalo meminta sumbangan dengan cara yang demikian.
Seperti halnya pengemis rutin yang datang ke kompleks perumahan tiap hari libur atau awal bulan. Bermodalkan baju santri plus peci yang dekil atau memang didekilkan, dia bawa bungkusan karung beras dengan separuh isi (entah apa isinya), rutin setor muka memelas di depan pagar rumah. Soal mental, mungkin mereka lebih strong dari salesman ataupun telesales yang ceriwis sekalipun. Tapi itulah mereka, tidak pernah kapok ditolak dan nagih terus. Ini juga masih banyak yang pro-kontra menyikapi pengemis beneran dan gadungan. Gimana kalau yang ditolak adalah pengemis beneran. Tapi pada prinsipnya sama saja mereka tetap pengemis. Seseorang yang kekurangan. Bagi pengemis beneran, mereka memang pengemis, karena kekurangan sumber daya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Juga bagi pengemis gadungan, sebenarnya mereka juga pengemis meskipun badan atau raga mereka segar bugar dalam usai yang masih produktif. Tapi mental mereka adalah memang pengemis dengan menjadikan mereka sendiri menjadi pengemis. Menyikapi hal seperti ini, ada orang yang cari amannya saja dengan memnberikan upeti kepada siapa saja pengemis itu. Ah apalah artinya dengan apa yang saya sisihkan. 'Siapa tau' dia memang pengemis beneran. Siapa tau dia seorang 'malaikat' atau orang suci, atau seorang nabi (Nabi Khaidir) yang mengejawantah menguji keimanan dan memberi pelajaran kepada manusia. "Mana bisa dan apa gunanya saya perlu mengetahui apakah pengemis beneran apa gadungan. Toh yang jelas sudah didepan mata, dan mengganggu suasana. Biarlah dia cepat pergi kalo dikasih sesuatu." Sekali lag itu semua soal 'selera'.
Kalau diperpanjang lagi mungkin "ini semua kan problem sosial yang nyata di depan kita. Ini kan karena pemerintah tidak benar menjalankan amanat undang-undang dalam menangani kemiskinan. Jadi tidak ada salahnya kita ikut membantu".
Terus terang saya bingung dalam menyikapi hal-hal tadi. Tapi intinya banyak hal yang sudah menjadi budaya dan terus dipertahankan meskipun sudah out-of-date, kadaluwarsa, dan perlu ditertibkan. Saya hanya ingin menyarankan kepada saya dan semua untuk selalu melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang akan didapatkan. Percuma kalau usaha yang kita lakukan dengan modal yang besar atau kebesaran, tapi justru membuahkan hasil yang tidak semestinya bahkan cenderung membawa efek negatif yang lebih besar. Saya kadang terkesan dengan ide-ide yang sebenarnya sudah usang, tapi karena dibungkus dengan package yang bagus dan canggih, dapat memberikan imbal hasil yang sangat besar jika dibandingkan dengan modal yang relatif sangat kecil.
Begitulah uneg-uneg saya ini yang ngalor-ngidul ngga karuan dan semoga juga tidak percuma.

Tuesday, July 05, 2005

Dalam bahasa pemrograman komputer, sering kali dijumpai suatu variable yang sebenarnya turunan, atau nama lain, atau alias dari variable tertentu. Mungkin ini susah untuk dijelaskan, tapi intinya: ada sesuatu entitas (atau data) yang tersimpan di memory tertentu, tetapi kita dapat mengaksesnya dengan 'mengatas namakan' variable yang berbeda-beda. Agak rumit memang. Contohnya, jika kita menginginkan untuk mengambil atau memanipulasi data tersebut kita dapat mengaksesnya menggunakan variable A, B, atau yang lain. Mungkin tidak semua bahasa pemrograman menggunakan konsep dan metoda yang sama. Ada yang menyebutnya pointer, atau clone-copy, redefines, dst..

Tapi sebenarnya tidak tentang data di memory computer itu yang ingin saya tulis. Sepertinya data dalam komputer, atau lebih luas lagi: materi , mengikuti konsep bahwa dia 'tidak ada artinya' dan tidak terikat ke sesuatu apapun. Dia tunduk pada siapa yang mengaksesnya, siapa yang memakainya. Tunduk kepada 'tuannya'. Kadang saya lupa dan tidak sadar untuk menempatkan posisi materi di tempat yang seharusnya, sehingga saya kadang lupa untuk bersyukur bahwa kita kebetulan mempuyai akses untuk mendapatkan materi. Materi di sini tentunya mempunyai arti yang sangat luas. Bisa harta benda, kehidupan, anak istri, saudara, dan semua yang ada dan dapat kita rasakan.

Jangan pernah berharap untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, tapi syukurilah dengan apa semua yang kita dapatkan. Nikmatilah selagi bisa. Mungkin dengan cara itu dapat mendekatkan kita untuk mensyukurinya. Kadang ada orang yang mengejar materi sehingga dia lupa sendiri untuk apa materi itu. Contohnya orang yang sangat kaya dan sibuk sekali dengan pekerjaannya untuk meningkatkan kekayaannya, sampai dia tidak dapat menikmati hasil kerjanya karena sangkin sibuknya dia bekerja. Kontrasnya, itu semua -- hasil kerja dan kekayaanya-- dapat dinikmati dengan sempurna oleh pembantu rumahnya, karena secara de facto dialah tuan rumahnya (karena tuan rumah yang aslinya hanya pulang untuk tidur beberapa jam); dialah 'pemilik' rumah itu dengan segala fasilitasnya.

So.. sekali lagi materi tidaklah mengenal siapa tuannya. It doesn't tight to anything, but it self. Materi tidaklah tunduk kepada materi. Dia tunduk kepada sang pencipta materi, yang memindahkan materi, yang 'mentransformasi' materi dan juga yang menghancurkan materi.
Demikian juga dengan kita, karena kita adalah materi juga.

Monday, July 04, 2005

An-Nur : 32

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (An-Nur : 32)

Friday, July 01, 2005

Dalam rencanaMu aku berencana

Tulisan ini bukan bermaksud menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan baik kita agar selalu untuk membuat rencana atau planning dalam beraktivitas. Tulisan ini kebetulan muncul sebagai hasil pengamatan saya belakangan ini, dan semoga saja tidak salah untuk diungkapkan.

Ketika sudah duduk di tempat kerja dan hendak mulai bekerja dengan hal-hal yang sudah saya persiapkan sebelumnya, kadang dengan tiba-tiba (kenapa juga ini sering terjadi), saya harus mengejakan hal lain yang saya pikir harus dikerjakan terlebih dahulu karena sangat pentingnya hal tersebut, tidak perduli suka ataupun tidak suka saya mengerjakan hal tersebut. Saya kadang berpikir, mungkin ada sesuatu yang salah dengan cara saya dalam melakukan perencanaan (plan management); atau bisa jadi saya sendiri yang tidak becus dalam bekerja, sehingga selalu datang permasalahan yang harus ditangani. Atau karena memang jenis pekerjaan saya yang bergelut di bidang IT yang selalu menuntut perubahan yang mengharuskan saya untuk menghadapi hal-hal demikian? Entahlah.

Sampai suatu saat dengan tidak sengaja mengamati hal yang sama terjadi pada orang lain. Orang-orang dari vendor IT lain yang kebetulan bekerja sama dengan saya dalam suatu project IT, juga mengalami hal yang sama dalam hal mismatch antara rencana dan pelaksanaannya. Hal yang sama juga terjadi pada vendor lain sebelumnya yang juga bekerja sama dengan saya dalam suatu project IT. Kemarin ada masalah dengan Operating system, sehingga buyar semua dengan rencana telah dipersiapkan. Kemarinnya lagi ada masalah dengan Database; ada lagi masalah web server; ada lagi masalah dengan aplikasi token. Wah pokoknya hampir setiap hari ada masalah. Jangan-jangan ini hanya terjadi pada implementasi IT di Indonesia? Entahlah.

Dalam hal kuliah, kenyataan ini juga sering terjadi. Hanya karena adanya "lompatan" molekul-molekul yang menghantarkan listrik di system syaraf sang dosen, akhirnya di depan kelas sang dosenpun berkata "A", tidak seperti dengan anggapan dan perkiraan saya untuk mengatakan "A*". Atau bisa jadi tidak ada "A", "A*" atau "Apapun", karena sang dosen tidak jadi datang, sehingga berantakanlah segala rencana, sampai kadang muncul perkataan, "Kalau tahu begini....", "Ngobrol kek kalau mau ke luar kota...", dst. Apakah ini memang salah satu bentuk 'pembelajaran'? Entahlah.

Bahkah hampir bersamaan dengan tulisan ini ditulis, di televisi, Menteri Perhubungan mengatakan “Seharusnya ini tidak perlu terjadi …” terhadap terjadinya tabrakan kereta api di pasar minggu. Tapi apakah mungkin tidak terjadi kecelakaan? Entahlah.

Pada suatu saat saya sadar dan tidak lagi berkata "Entahlah" ketika suatu saat saya mengalami 'hal kecil' yaitu ban kendaraan saya bocor (dengan tiba-tiba tentunya) dan berantakanlah semua rencana saya. Saya harus menambalkan ban itu dan sambil menunggu saat akhirnya berpikir, bahwa kadang saya harus menjadi tidak berdaya, tidak dapat menolak dengan yang terjadi pada diri saya. Saya hanyalah sebutir partikel di antara sekian milliard (atau sekian satuan yang tidak dapat didefinisikan oleh siapapun) partikel-partikel lain yang berinteraksi satu sama lain di alam yang agung ini. Saya hanyalah seorang hamba yang lemah yang hanya dapat menyusun rencana dengan rapuh, dalam kesempatan yang diberikan Sang maha rencana, Sang maha perkasa.

Saya percaya bahwa dibalik semua kejadian pasti ada maksud dan hikmah dari Sang maha rencana. Hikmah yang saya ambil, seandainya saya tidak mengalami kejadian-kejadian itu, mungkin saya tidak dapat menulis tulisan ini.

Saya hanya dapat berencana tapi Tuhan dengan kasih sayangnya mengganti rencana kita dengan kebetulan-kebetulan sehingga memberi kesempatan pada saya untuk merencanakan lagi. “Dalam rencanaMu aku berencana”

Saya hanya menjalani apa yang ada sekarang dengan segala rasa suka. Kata Koes plus, “Buat apa susah...”. Life is short!


Medang Lestari, 01 Jul 2005 ; 05.10 am

Tuesday, April 12, 2005

Garis lurus - garis lengkung

Warning : Persiapkan diri anda untuk membaca tulisan berikut ini, karena banyak menggunakan asumsi geometric.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan tidak produktif. Sambil menunggu proses backup/restore data selesai, akhirnya saya coba nge-blog lagi setelah sekian lama diriku absen.
Saya teringat akan ucapan dosen saya tentang terminologi garis lurus dan garis lengkung. Jika di antara kedua titik dihubungkan dengan sebuah garis, jenis garis apakah yang akan menghubungkannya? Garis lurus-kah.. atau garis lengkung?

Mari kita cari jawabannya.

Pertama.
Jika garis tersebut (yang kebetulan dibuat dengan menggunakan penggaris yang lurus, heheh) adalah garis yang relatif pendek, maka jikadiamati dengan penglihatan biasa, mungkin jawabnya adalah garis lurus.

Kedua.
Seandainya garis tersebut merupakan garis yang relatif panjang, dan diteliti ditiap ruas garis tersebut, bahkan tiap titik-titik penyusun aris tersebut, sampai ke ukuran titik yang paling kecil (atau secara matematis dikenal dengan 'discontinue')maka kemungkinan besar akan dapat dijumpai bahwa sebenarnya garis tersebut tidak benar-benar lurus absolutely.

Ketiga.
Jika garis tersebut merupakan garis yang relatif panjang, dan kita hanya mengamati satu segment garis tertentu, maka jika segment garis tersebut merupakan garis lurus, belum tentu garis utamanya, secara keseluruhan adalah garis lurus.

Mungkin analogi ini dapat diperluas lagi yaitu: untuk meragukan dengan apa yang dapat kita lihat. Kita boleh percaya dengan apa yang kita lihat, tapi tidak seharusnya untuk mempercayainya 100 persen. Karena pada dasarnya kemampuan indera kita ada batasnya. Minimal dibatasi oleh dimensi waktu dan juga dimensi ruang.

Pada suatu waktu mungkin kita mengenal seseorang sebagai orang yang 'bersih'. Seiring berjalannya waktu yang panjang, akhirnya kita tahu dengan sendirinya bahwa orang yang dimaksud tersebut tidak sebersih seperti penilaian kita dulu. Sewaktu kecil mungkin kita menyangka bahwa bumi yang kita injak ini adalah lurus -- datar. Tapi seiring berjalannya waktu, dan juga karena semakin meningkatnya kemampuan analisa spacial kita, akhirnya kita percaya bahwa sebenarnya bumi ini tidaklah datar.

So, intinya: Jangan terlalu percaya dengan apa yang kita lihat atau ketahui. Karena bisa jadi yang 'benar' menjadi 'salah'; yang kelihatannya positive ternyata negative, dan sebaliknya. (Bingung kan? :)

Juga jangan terlalu over (estimate/expected) ataupun terlalu under (estimate/expected) terhadap segala sesuatu. (.. hhm.. saya jadi kepingin nulis "malaikat buluk-gebleg-ancur vs setan top-uhuy-abis" .. tunggu aja kapan2 ya kalo sempet).

Juga ojo gumunan. Jangan mudah heran, takjub. Karena kalau saat ini anda belum dapat menangkap esensi dibalik hal yang anda kagumi-admired, tidak tertutup kemungkinan suatu saat di lain waktu dan juga lain tempat, anda menjadi bagian yang banyak orang kagumi. Dan yang dulu anda kagumi ternyata biasa aja .. 'begitulah' dan ecek-ecek.

Guys..., sebenarnya saya masih mau menulis lebih panjang lagi.. tapi saya harus kembali bekerja. So simpulkan sendiri ya..

Truth is beautiful, without doubt; but so are lies. - Ralph Waldo Emerson